|
| DEBAT KANDIDAT DI DAERAH |
| Wednesday, August 8, 2007 |
DEBAT KANDIDAT DI DAERAH (Sebuah Catatan Perjalanan Dari Zaqaziq, Masuroh dan Tanta)
Debat di Zaqaziq
Panitia Pemiliu Raya dan Sidang Umum PPSU 2007 telah melaksanakan salah satu agenda kegiatanya yaitu Kampanye dan Debat Kandidat di Daerah. “Selain sebagai perkenalan calon presiden, kegiatan ini juga sebagai media untuk mendengar aspirasi para warga DPP-PPMI yang ada di daerah,” tandas ketua Panitia Yopi Nurdiansyah dalam sambutannya. Ahsanur Ahmad ketua baru DPD Zagozig dalam sambutannya beliau meminta kepada kedua calon presiden, siapapun yang terpilih diharapkan memberikan subsidi buat pembayaran sekretariat terutama sekretariat DPD Zagozig. Seterusnya beliau juga meminta adanya kunjungan dari pihak PPMI Pusat dan adanya bantuan fasilitas.
Debator yang ditunjuk DPD Zagozig Zakaria Mukhtar dalam acara tersebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua calon presiden. Di antaranya beliau menanyakan tentang adanya kekhawatiran bila kedua calon presiden dilatar belakangi oleh partai politik. Selanjutnya menanyakan tentang sejauh mana pengetahuan kedua calon presiden tentang DPD Zaqaziq. Juga tentang sejauh mana persiapan kedua Calon Presiden dalam pembenahan intelektual dan segala permasalahan Masisir.
Hasan Ali selaku Moderator mempersilahkan terlebih dahulu kepada Malingkai Ilyas untuk memaparkan jawabannya atas pertanyaan debator. Malingkai menjelaskan bahwa pencalonan dirinya tidak diusung oleh partai manapun. Beliau juga menerangkan bahwa sejak di Pondok Modern Gontor telah diajarkan tentang falsafah hidup yaitu “Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan.” Ia juga menjelaskan bahwa dirinya bukan pro partai tapi pro Masisir. Mengenai pengetahuannya tentang DPD Zagozig dirinya telah sering berkunjung ke Zaqaziq. mengenai permasalahan kuliah, ia akan menjalin komunikasi antara dua pihak baik pihak Masisir ataupun pihak Azhar.
Jawaban Talqis Nurdianto mengenai pengetahuannya tentang Zaqaziq, dia sudah mengenal Zaqaziq sejak lama dan sering berkunjung ke sana baik secara resmi ataupun tidak resmi. Mengenai PPMI ia mengibaratkan PPMI sebagai rumah sakit islam yang menerima pasien dari berbagai golongan tanpa menghilangkan nilai keislaman itu sendiri, artinya PPMI milik bersama bukan satu golongan. Mengenai kuliah dia menjelaskan dirinya telah menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Maktabah Ri'ayah Wafidin yang siap menjembatani keluhan wafidin dalam bidang intelektual.
Setelah Moderator memberikan kesempatan kepada hadirin untuk bertanya, munculah beberapa penanya, diantaranya Haryadi, mahasiswa Syari'ah wal Qonun Tafahna. Ia menanyakan tentang keterlambatan kedua calon presiden dalam mendaftarkan diri kepada panitia pemilihan. Selanjutnya dia juga menanyakan program koperasi yang diprogramkan oleh Talqis Nurdianto dan program paket studi intensif fakultatif yang diprogramkan oleh Malingkai. Dalam menanggapi pertanyaan tersebut Talqis memaparkan mengenai keterlambatannya (Talqis,red) karena adanya musyawarah dan penggodokan program terlebih dahulu. Mengenai program koperasi ia menjelaskan bahwa Masisir perlu belajar mandiri dan membina dunia usaha. Ia pun menjelaskan bahwa program riset sebagi pembekalan kepada para mahsiswa untuk memahami metodologi pengajaran.
Selanjutnya Calon nomer 2 Malingkai menjelaskan tentang keterlambatanya, semula dia (Malingkai. Red) tidak bermaksud mencalonkan diri, tetapi setelah mendengar pendaftar hanya satu orang maka tergerak untuk menolong, membela dan memperjuangkan PPMI. Paket studi intensif tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan acara di daerah. Irham Mahasiswa asal Garut menanyakan Tentang kedua calon apakah terikat kontrak politik dengan Organisasi lain atau tidak. Talqis dan malilngkai dia memberi penjelasan bahwa pencalonannya tidak ada istilah kontrak politik dengan pihak manapun tapi mereka menyatakan bahwa PPMI milik Masisir. Selanjutnya M. Hasbi meminta kepada kedua capres untuk bisa menampilkan kreatifitas daerah dalam acara yang diselenggarakan PPMI. Masalah Moralitas juga muncul setelah salah seorang hadirin menanyakan sebuah kasus tentang moral Masisir dan keberadaan TKW di Mesir ini. Kedua Capres menjelaskan bahwa TKW bukan tugas PPMI tapi ada badan khusus di KBRI dan PPMI hanya penyampai Informasi. Debat Manshurah
Ketua DPD Manshurah Ibrahim Komarudin ketika di wawancarai oleh Tim Jurnal PPSU dia menyambut baik dengan diadakannya kampanye ke daerah "Karena terus terang selama ini banyak warga yang belum tahu siapa Capres tahun ini". Dalam sambutanya ia meminta siapapun yang menjadi Presiden PPMI nanti yang penting amanah dan Tanggungjawab, karena warga daerahpun warga PPMI.
Setelah moderator mempersilahkan kedua capres untuk menyampaikan visi dan misinya yang terkait dengan pencalonannya, maka dua debator yang mewakili DPD Mansuroh yaitu saudara Adul Hakim MA. dan Maarif memberikan beberapa pertanyaan. Abdul Hakim menanyakan pogram apa yang akan diberikan kepada DPD Mansuroh, beliaupun menayakan jatah temus bagi daerah, moralitas dan kebijakan Depag dalam penanganan Maba. Moderator terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada Talqis. Talqis menjelaskan bahwa semua program termasuk yang menyangkut daerah akan digodok dalam rapat kerja. Adapun untuk temus, itu merupakan keputusan yang di sepakati dalam musyawarah. Maka dia akan mengikutu sebagaimana hasil rapat yang telah di sepakati. Adapun mengenai keputusan Depag Talqis menjelaskan bahwa keputusan itu bukan kepentingan Depag semata. Tapi diharapkan Maba yang datang ke Mesir berbekal intelektual dan Finansial. Malingkai dalam menanggapi pertanyaan dari Abd. Hakim memberikan penjelasan, PPMI bisa memberikan program yang berfaidah bagi daerah setelah daerah meyuarkan aspirasinya. Tentang Temus merupakan hasil mufakat.
Debator kedua, Maarif menanyakan tentang pengetahuan kedua calon tentang Manshurah, dia juga meminta supaya mengirimkan Jurnalis dari Pusat untuk mengadakan Pelatihan di Daerah, dan meminta kecepatan informasi yang sekarang ini di rasa selalu lambat. Dalam kesempatan ini Malingkai terlebih dahulu dipersilahkan untuk menjawab pertanyaan. Malingkai menerangkan bahwa dirinya siap mengirimkan jurnalis dari pusat ke daerah untuk memberikan pelatihan. Pengetahuan tentang Mansuroh ia menjelaskan hanyalah kenal secara personal. Dalam penginformasian, dia menjanjikan memberikan informasi dengan media yang memungkinkan. Seterusnya Talqis memberikan tanggapan tentang pertanyaan tersebut. Pengetahuanya tentang Mansurah ia menjelaskan bahwa dirinya pernah berkunjung dalam acara buka bersama. Mengenai Jurnalistik dia akan memusyawarahkan dalam rapat kerja. Informasi yang dirasa lambat, Talqis menjelaskan akan mensosialisaikan dengan cara yang memungkinkan.
Selanjutnya Moderator memberikan kesempatan bertanya kepada seluruh Audien. Ridwan Mahasiswa jurusan Tafsir, menanyakan tentang bagaimana kesiapan PPMI untuk meluruskan pemikiran seperti JIL (Jaringan Islam Liberal). Faisal Kamaludin Mantan Ketua DPD Manshurah meminta Peran PPMI untuk bisa mengantar Tokoh-tokoh penting supaya dibawa berkunjung ke daerah. Adapun yang lainya menanyakan tentang upaya mengatasi moralitas yang terdengar ‘miring’ dan juga tentang semaraknya group musik dan Radio di Kairo.
Talqis menerangkan mengatasi JIL dia mengajak semua kalangan untuk beramal jama'i dan mempelajari Islam dengan baik dan benar. Tentang permintaan untuk untuk mendatangkan tokoh penting ke daerah dia menjelaskan tergantung jadwal kesiapan tokoh itu sendiri. Mengenai sebagian Masisir yang dianggap mulai liberal Malingkai menerangkan bahwa dia akan menghidupkan lagi Chanel dengan INSIST dan lembaga lain yang rajin memerangi golongan Islam Liberal. Untuk mengatasi masalah moralitas sebagian Masisir yang agak miring, dia menjelaskan supaya ada sistem pemberian nasihat dari senior. Mengenai sebagian Masisir yang mulai menggeluti dunia intertainment asalkan bisa mempertahankan nilai keislaman dan dalam porsi yang masih bisa di tolelir. Debat Tanta
Setelah sambutan-sambutan, moderatorpun memperkenalkan kedua capres. Dimas Yodistira selaku Moderator mempersilahkan kedua Capres untuk memaparkan visi dan misinya. Selanjutnya, Dimas pun mempersilahkan debator untuk bertanya kepada kedua capres tersebut. Debator menanyakan paradigma Masisir dalam dinamika akademik dan moralitas Masisir.
Malingkai yang terlebih dahulu menjawab menyatakan bahwa dinamika akademika Masisir perlu dimaksimalkan dan dibina secara optimal. Mengenai moralitas, Malingkai menerangkan bahwa akan mengoptimalkan kinerja lembaga yang sudah dibentuk seperti DKKM yang sekarang belum terasa optimal. Tentang moralitas Masisir Talqis menjelaskan bahwa DKKM sebagai pelindung dan PPMI sebagi wahana informasi.
Usai sesi pertama Moderator mempersilahkan hadirin untuk bertanya, diantara penanya Fakhri Abdul Majid menanyakan tentang kegiatan seperti Indonesian Games apakah boleh diikuti daerah. Selanjutnya Abdullah menanyakan kelayakan pencalonan diri kedua Capres tersebut, pertanyaan terakhir yaitu datang dari Musa Alim yang menayakan tentang kesiapan PPMI pusat untuk memberi panduan bimbingan kedaerah.
Dalam kegiatan ini Talqis dan Mallingkai memberikan jawaban yang hampir sama mengenai Indonesian Games diikuti semua mahasiswa Indonesia yang rata-rata tergabung dengan Kekeluargaan masing-masing. Mengenai kelayakannya sebagai Calon Presiden Talqis menjawab bahwa dirinya sudah Optimis menang. Sedangkan Malingkai menjawab bahwa dirinya akan berusaha dan bekerja keras untuk menang. Adapun mengenai bimbingan ke daerah keduanya sepakat akan di rapatkan dalam rapat kerja.
Semoga semua janji yang dilontarkan oleh para Capres bukan hanya sekedar janji belaka, tapi dapat direalisasikan setelah mereka terpilih sebagai Presiden PPMI nanti.[] [Ulum] |
| posted by PPSU 2007 @ 9:40 AM |
|
|
|
| AMANDEMEN SGS |
|
AMANDEMEN SGS
Para tokoh Masisir yang intens memperhatikan SGS (Student Goverenmant System) telah berurung rembuk dalam acara yang disebut Hearing (dengar pendapat) yang dilaksakan tanggal 4 Agustus 2007 di sekretaiat Himpunan Mahasiswa Medan (HMM).
Dalam acara hearing tersebut muncul beberapa agenda yang dibicarakan dan cukup alot, di antara permasalahan yang muncul terebut yaitu: Pertama, SGS, wacana yang muncul yaitu adanya usulan tentang peleburan MPA dan BPA menjadi satu kepemimpinan, yang sekarang masih menggunakan dua kepemimpinan. Kedua, Rekomendasi tentang Laporan Kerja Semester (LKS) yang direkomendasikan untuk dihapus.
Ketiga, Tentang posisi OK (Organisasi Khusus) bahwasanya ada sebuah usulan yang menyatakan bahwa Organisasi Khusus seperti Afiliatif dan Almamater akan diposisikan dimana, apakah dibawah MPA atau melebur ke dalam MPA&BPA. Jadi permasalahan yang timbul sekarang adalah OK itu idealnya diposisikan dimana, ataukah akan dilebur. Dan sejauh mana kesiapan organisasi tersebut.
Keempat, Fungsi Yudikasi. Permasalahan yang timbul sekarang kok Yudikasi ada di bawah BPA. Apakah tidak lebih ideal kalau dibentuk saja satu lembaga yudikasi, seperti mahkamah yudikasi misalkan.
Dari keempat masalah tadi masalah keempat merupakan masalah yang sangat sulit sehingga belum menemukan titik temu oleh karena itu masalah tersebut akan dibahas dalam sidang umum yang akan datang.[] (BU) |
| posted by PPSU 2007 @ 9:35 AM |
|
|
|
| Capres adalah Sang Pahlawan |
| Monday, August 6, 2007 |
Capres adalah Sang Pahlawan Army Kurniawan*
Sistem Pemerintahan Pelajar (SGS) yang diterapkan di PPMI telah memberikan banyak pelajaran yang berharga buat kita. Karya besar para pendahulu ini perlu ditingkatkan ke arah yang lebih efesien dan efektif. Contoh kecil saja seperti, pencalonan presiden yang memakai cara langsung dan menyeluruh ini adalah kerja besar yang mustahil bisa dilakukan kecuali dengan sistem yang rapi dan terkoordinir.
Sistem pemilu yang kita pakai di PPMI sangat mirip dengan sistem pemilu di Indonesia, meskipun ada beberapa hal yang berbeda. Kerja besar ini minimal harus diperkuat oleh tiga unsur; 1. Unsur Penyelenggara 2. Unsur Capres 3. Unsur Pemilih.
Saat ini penulis ingin mengkosentrasikan tulisan ini kepada unsur yang kedua yaitu unsur Capres. Ada beberapa faktor penting yang harus selalu ditinjau oleh seorang Capres, faktor lingkungan Masisir dimana Capres akan beraktifitas dan menjalankan segala bentuk program kerjanya dan faktor kepribadian atau persiapan internal seorang Capres karena hal ini akan menjadi modal dalam mengolah segala macam pekerjaan dan permasalahan.
Faktor lingkunagan Masisir.
Kita sangat memahami bahwa lingkungan Masisir tidak jauh bedanya dengan lingkungan Negara kita Indonesia tercinta. Hal yang selalu saja digemborkan yaitu tentang kemajemukan Masisir dari segi intelektualitasan dan segi sosial masyarakatannya. Ini merupakan sesuatu yang lumrah dan biasa saja, karena Masisir adalah bagian dari sebuah negara yanmajemuk dan beragam dari sisi sosial kemasyarakatannya. Sesuai dengan titah ilahi dalam menyikapi keberagaman yang akan menjadi barometernya adalah agama dan nilai-nilai syariah. Penulis berkeyakinan bahwa kita semua sepakat akan hal ini.
Seorang Capres tidak hanya dituntut untuk bisa memahami dan menganalisa lingkungannya, Capres juga diharapkan bisa menindaklanjuti permasalahan yang ada dengan memakai koridor agama dan syariat. Kita menyadari bahwa setiap jabatan yang berada di pundak kita bukan hanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia saja akan tetapi yang jauh lebih penting adalah pertanggungjawaban ke hadiarat Ilahi. Kita bisa menilik kepada presiden yang telah terpilih beberapa masa yang lampau. Dapat kita lihat pondasi awal mereka dalam mencalonkan diri. Banyak kita beranggapan ketika seorang Capres maju dengan moto atau motivasi kerakyatan atau mengedepankan keinginan rakyat maka ini adalah presiden yang terbaik, namun penulis mencoba menganalisa dari sisi yang lain. Hal ini akan berbeda dengan Capres yang maju dengan moto menegakkan nilai-nilai agama atau syariat ke dalam tubuh Masisir. Analisa penulis menunjukkan bahwa hal di atas akan sangat berpengaruh kepada hasil dan program kerja seorang Capres.
Seorang Capres yang bermotivasi awal mengedepankan keinginan rakyat akan menjadi seorang presiden yang bingung dan dianggap tidak punya kepribadian. Sama-sama kita pahami bahwa keinginan rakyat sangatlah beragam dan belum tentu sesuai dengan keinginan syariat. Berbeda dengan Capres yang bermotivasikan untuk penegakan agama dan nilai syariat, Capres ini akan selalu mempunyai pandangan yang tajam dan teliti serta memiliki mentalitas yang stabil, ia tidak mudah digoyahkan oleh sedikit keinginan namun ia juga bisa merakyat karena prinsip-prinsip agama sangat menjunjung nilai kebersamaan.
Dari dua orang Capres yang sudah ditetapkan akan melaju ke pentas pemilu PPMI, kita yakin mereka telah sangat mempertimbangkan hal dan faktor di atas. Capres yang diusung oleh Misykati yaitu Talqis, adalah seorang yang berkepribadian santun dan reliji. Penulis sangat optimis bahwa ia akan meraih suara yang besar. Begitu juga dengan Capres yang diusung oleh KKS yaitu Malingkai Ilyas merupakan sosok yang selalu optimis dan dan suka bergaul, penulis juga mempunyai keyakinan kuat bahwa ia akan meraih suara yang besar. Tinggal bagaimana kedua Capres ini mampu menyeimbangkan dukungan kelompok dengan dukungan dari luar.
Faktor internal atau kepribadian.
Persiapan dalam hal ini sangat penting, mempertajam kemampuan komunikasi publik, menyelami sistem PPMI dan meningkatkan kemampuan dalam mengolah nada-nada perpecahan yang ada. Idealnya hal ini sudah dipersiapkan dari jauh hari namun masih Belum terlambat untuk selalu terus mencoba menuju kepada titik maksimal. Sistem PPMI bukan hal yang sangat sulit untuk dipahami dan dipelajari. Sistem ini sangat dekat dengan Masisir karena paradigmanya dibangun di atas keinginan mempelajari sistem pemerintahan Negara kita Indonesia. Namun kita akan kesulitan ketika kita tidak mampu elastis dalam memahami aturan ini, karena banyak hal yang masih belum bisa disesuaikan dengan negara kita. Contoh, optimalisasi kerja badan legislatif dan yudikatif yang ada di tubuh PPMI.
Persiapan internal ini sangat ditentukan oleh keinginan seorang Capres dalam mengembangkan dirinya dan kemauannya untuk belajar dengan sesama serta ketabahannya dalam berinteraksi dengan segala macam bentuk pemikiran yang ada. Berangkat dari banyaknya persiapan yang harus dilakukan oleh seorang Capres dalam mengokohkan dirinya sebagai pemimpin sekaligus pelayan Masisir, maka penulis berani mengatakan bahwa seorang Capres adalah seorang pahlawan, terlepas apakah ia akan menang dalam perjuangannya ataupun tidak.
Demikian sedikit ringkasan dari opini yang sedang berkembang di Masisir. Kepada Capres penulis menitipkan pesan agar selalu memperbaharui niat dan selalu tetap memakai rel agama sebagai batasan aturan dalam mengeluarkan strategi dalam pencapaian sebuah kemenangan. Kemenangan hakiki tidak terletak di hadapan manusia namun ia berada di hadapan sang ilahi dan selalulah untuk menjadi seorang pahlawan yang selalu bertarung dengan menggunakan senjata kejujuran dan ikhlasan. Selamat berjuang antum berdua adalah pahlawan PPMI.[] * Ketua BPA PPMI 2006-2007 |
| posted by PPSU 2007 @ 11:26 PM |
|
|
|
| AAJP 2 |
| Saturday, July 28, 2007 |
Kegiatan musim panas yang bejubel membuat sebagian kita lupa akan Pemilu Raya yang di depan mata dan bahkan mungkin belum tau akan beliau-beliau yang akan memimpin kita.Tim jurnal PPSU telah berhasil mengorek sedikit info akan visi dan misi para kandidat presiden kita, paling tidak bisa jadi gambaran temen-temen dalam pilpres nantinya, kalo gitu simak baik-baik liputan kami. Heri Nuryahdin Ketua KMJ 2006-2007
Andai aku menjadi presiden, akan aku usahakan untuk memfasilitasi perangkat-perangkat yang menunjang akan kemajuan akademis dan kreatifitas masisir, menampung aspirasi mereka dengan berusaha sebaik-baiknya merealisasikannya. Menjalin mitra kerja dengan pihak Azhar untuk orientasi masisir ke depan dengan menjadikan Azhar sebagai instrumen kemajuan keimanan dan intelektual di luar kuliah. Dan mempererat persatuan hubungan masisir dengan mahasiswa Asia lainnya, hingga ketahap para alumninya. Sehingga akan terwujud adanya rasa seperjuangan dan seda'wah dalam mempererat persatuan muslim Asia. Yang paling final dalam hati saya adalah bisa mengayomi masisir secara menyeluruh dan seutuhnya.
Helda Zakaria Wakil Ketua WIHDAH
Yang pertama adalah masalah intelektual supaya lebih dioptimalkan tahun depan. Sepeti Metodologi Riset yang sempat tertunda. Kemudian masalah perengkrutan pengurus supaya lebih selektif karena mungkin ada beberapa pengurus yang berhenti di tengah jalan. Jadi benar-benar dipilih orang-orang yang siap membantu dan siap bekerja. Orang-orang tersebut bisa dipilih dari beberapa pelatihan seperti pelatihan administrasi atau yang lain. Atau orang-orang yang benar-benar capable.
Hayati Fashiha Wakil Ketua III MPA PPMI 2006-2007
Bentuk realnya saya tidak bisa menyebutkan, tapi yang pasti dia harus bisa membawa visi dan misi. Jadi jangan asal mengadakan program. Kalau bisa program itu bertujuan mengembangkan SDM. Misalnya: tulis-menulis atau SDM lain yang kita miliki. Jadi jangan hanya banyak program yang dicanangkan tapi tidak bisa membawa visi dan misi secara jelas karena pada akhirnya tidak akan berkesan meskipun banyak uang.
Dhoriefah Niswah El-Fidaa’ Pengurus WIHDAH
Perlu kita ketahui bersama, seorang presiden ketika menjalankan amanat perlu membina dan menyadarkan masyarakatnya tentang pentingnya amanat kehidupan. Amanat kehidupan itu sendiri tidak terlepas dari fungsi kita sebagai hamba Allah yang mengaktualisasikan bakti suci, pengabdian total kepada Allah dalam arti luas dan dalam. Dan tentunya dari yang kecil hingga yang besar wajib melibatkan diri. Seorang presiden tidak akan bisa melaksanakan amanat sucinya apabila tidak membina masyarakatnya. Tugas pembinaan masyarakat bisa terlaksana dengan memotori setiap kegiatan secara bersama-sama. One for All, All for One sehingga di sini perlu diarahkannya sebuah pendidikan yang berbasis Fitrah Tauhid, Ukhuwah dan Fitrah Keummatan. Dimulai dari bawah sampai atas: membangun masyarakat yang berperadaban, kemudian dari atas sampai bawah: menyelesaikan, membersihkan, dan mengontrol bangunan.
Budaya kritik-mengkritik sudah biasa terjadi di dunia Masisir, maka seorang presiden hendaknya berlapangdada dalam menghadapinya. sadarilah bahwa ketika menjadi presiden diperlukan satu kata ‘selalu menahan diri’ demi terlaksananya amanat. Yang perlu Anda lakukan hanya satu to give, to give, to give dan akhirnya menjadi to gain.
Talqis Nurdiyanto Wakil Ketua I KSW
Jika Saya menjadi Presiden PPMI 2007-2008?
Presiden mesti pro masisir dalam menerima atau menjembatani aspirasi masisir yang begitu heterogen. Aspirasi yang telah diterima menjadi bekal para pengurus dalam merumuskan program kerja presiden dan kabinetnya, inilah yang ingin saya lakukan jika jadi presiden.
Saya akan memberi memberikan nama pada kabinet dengan nama Kabinet Masisir. Hal ini sesuai dengan jargon yang saya usung, adalah Presiden Pro Masisir. Yang mempunyai visi dan misi serta program unggulan sebagai berikut: Visi : “Berprestasi dan Peka Sosial”. Karena kepekaan social dan prestasi adalah dua kata yang tidak selayaknya dipisahkan. Misi : Pertama, menjadikan PPMI sebagai wadah aspirasi, silaturrahmi, dan komunikasi sesama anggota. Kedua, memacu masisir untuk lebih giat dalam menuntut ilmu dan meningkatkan prestasi akademis-non akademis, kualitas, kreativitas, dan produktifitas diri.
Program Unggulan: (1).Mengadakan kegiatan metodologi riset dan pengajaran, sebagai pembekalan dan persiapan Masisir dalam mengabdi di Indonesia. (2). Pekan Sehat Masisir (PSM). (3). Meningkatkan kualitas intelektual Masisir dengan pelatihan, kursus, dan bimbel, serta dialog keilmuan. (4). Akurasi data Masisir ke arah yang lebih valid. (5). Galang massa aksi solidaritas sosial dan kemanusiaan. (6). Mewadahi dan mengoptimalkan skill olah raga dan seni Masisir dalam even-even pameran dan pertandingan, diantaranya INDONESIAN GAMES, musim tsaqafi dll. (7). Mengoptimalkan koperasi PPMI sebagai penopang finansial organisasi. (8). Memperluas link-link PPMI, baik dalam skala mikro maupun makro. (9). Mengoptimalkan dan mempromosikan berbagai potensi dan karya serta media informasi Masisir. (10). Menggali potensi-potensi anggota yunior PPMI.[] |
| posted by PPSU 2007 @ 12:32 PM |
|
|
|
| Menuju Kursi-1 Masisir |
|
Menuju Kursi-1 Masisir Al Fakhri, Lc*
Perhelatan akbar Masisir telah dimulai. Genderang pun akan ditabuh seiring munculnya beberapa kandidat. Beberapa nama mulai disebut-sebut. Siapapun kelak yang duduk di kursi-1 Masisir hendaklah membawa angin perubahan dan perbaikan. Siapapun orangnya dan darimanapun daerahnya. Visi dan misi yang diusung haruslah mementingkan kemaslahatan bersama. Sebagai Masisir kita harus peka dengan ini. Karena satu tahun ke depan kebijakan-kebijakan Masisir ditentukan saat ini. Maka momen Pemiluwa perlu dijadikan batu loncatan untuk melakukan perbaikan.
Banyak hal yang perlu dibenahi di PPMI. Walaupun kita sadar itu semua tidak bisa dengan 'kun fayakun'. Perlu proses dan usaha yang berkesinambungan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa rasa kepemilikan Masisir terhadap PPMI masih lemah. Bisa jadi disebabkan oleh tidak tersentuhnya semua elemen masyarakat oleh PPMI. Terlepas dari cara masisir berfikir. "Apa yang saya dapat dari PPMI? Seberapa besar manfaat yang bisa saya terima kalau aktif di kepanitiaan PPMI?" Atau kurangnya rasa kepemilikan ini juga dimunculkan oleh kecenderungan masisir yang tidak mau tahu dengan organisasi induk mereka. "Toh, siapapun jadi presiden, saya tetap bisa belajar kok", "Siapapun kabinetnya privasi saya nggak diganggu!" "Terserah ngapain orang di PPMI yang jelas kalau saya mau minta surat keterangan untuk proposal, mudah!" Dan untuk menuntut Masisir merubah paradigma mereka tentang PPMI cukup sulit. Kecuali jika PPMI (orang yang di PPMI) menunjukkan keberpihakannya kepada Masisir. Keberpihakan dalam bentuk program-program yang digulirkan. Keberpihakan dalam bentuk perhatian. Keberpihakan juga dalam bentuk kebijakan-kebijakan.
Seyogyanya dalam menggolkan sebuah program, DPP PPMI haruslah cerdas dan kreatif. Cerdas melihat tuntutan Masisir, cerdas dalam memberikan porsi pada masing-masing segmen. Secara umum segmen Masisir terkotak dalam beberapa bagian. Segmen intelektual dan keilmuan, segmen olahraga, segmen rumahan, segmen bisnismen, sampai segmen dunia maya. Maka DPP PPMI dituntut bisa memberikan porsi yang proporsional dalam segmen tersebut. Dan cerdas saja tidak cukup. Kecerdasan juga diiringi dengan kreativitas. Karena tabi'at dari masyarakat adalah cepat merasa jemu dan bosan apabila berjalan dengan kondisi stagnan dan monoton. Program jiplakan (Dengan alasan, begini kami dapati pendahulu-pendahulu kami) hanya akan menimbulkan kebosanan. Tidak salah memang, hanya saja perlu dilihat tabiat masyarakat tadi. Maka di sini kreativitas menemukan tempatnya. Walaupun program yang sama tapi dibungkus dengan kreatifitas dan inovasi akan jauh lebih menarik. Dan kreatif juga kadang tidak cukup, perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang matang setelah melakukan studi yang mendalam. Jangan asal kreatif dan inovatif tanpa mempertimbangkan dampak dan kerugian yang dimunculkan oleh kreatif tanpa kendali!
Membangun opini dan pencitraan juga penting. Maka diperlukan media dan sarana untuk membangun opini publik. Kadang suatu program yang luar biasa menjadi biasa bahkan menjadi tidak berarti ketika opini dan citra yang berkembang tidak berpihak kepada DPP PPMI. Malah bisa saja program dan kegiatan yang biasa menjadi luarbiasa dan spektakuler ketika opini yang dibangun berlebihan. Dan masisir yang vakum yang hanya berpegang kepada opini yang berkembang akan terjebak di sini. Idealnya adalah opini yang dibangun sejalan dengan program dan kegiatan yang dijalankan. Objektif dalam melakukan penilaian. Saya akui memang susah dan sangat berat. Butuh pengorbanan. Dalam waktu yang singkat mewujudkan semuanya. Membumikan program-program agar terasa sampai kalangan grass root. Berat bukan berarti mustahil. Susah bukan berarti tidak bisa.
Masisir harus tahu bahwa PPMI memiliki peran strategis. PPMI juga punya Power untuk membantu mereka dalam mewujudkan target dan tujuan mereka. Bagaimana bisa belajar dengan baik kalau dibayang-bayangi oleh perasaan takut? Takut kemalingan, takut diganggu ataukecopetan. Bagaimana bisa melenggang dengan tenang dan bangga, kalau masyarakat pribumi menilai kita dengan penilaian yang negatif akibat sikap dan tindakan dari sebagian kecil Indonesiy.
Cara berpikir dari sebagian masisir yang ingin baik sendiri, ingin sukses sendiri, ingin masuk surga sendiri, atau cara berfikir loe-gue, yang menimbulkan rasa tidak peduli, tidak mau tahu perlu di luruskan. Karena kekuatan kebaikan di tengah-tengah masyarakat tidak boleh sembunyi. Kekuatan kebaikan tidak bisa diusung sendiri. Kegelapan akan menampakkan pekatnya ketika cahaya pelita mulai redup. Kegelapan malam akan sirna ketika fajar subuh menyingsing.
Aspirasi masisir akan menemukan wadahnya. Wadah untuk mengharapkan perubahan dan perbaikan yang berarti. Mengidamkan akan munculnya orang yang kuat dan tegar. Kuat dalam mensosialisasikan programnya dengan kalangan grass root. Kuat dalam melakukan lobi dan komunikasi dengan pihak 'atas'. Kuat dalam melakukan kerja tim. Kuat studinya, kuat spiritual, kuat dalam memegang amanah dan prinsip.
Sosok presiden sangat menentukan perjalanan dinamika masisir setahun mendatang. Kita berharap presiden mendatang memiliki akseptabilitas yang menyeluruh di kalangan masisir. Presiden yang memiliki pengalaman yang cukup di dunia organisasi. Presiden yang mau bekerja. Presiden pandai retorika. Presiden yang bisa mengakomodir keragaman yang ada.
Tapi baik juga diperhatikan oleh seorang presiden bahwa "Ridhannaas ghaayatun laa tudrak". Agar semua orang senang dan selamat dari komentar-komentar miring bukan jadi tujuan. Ada komentar tanda ada gerakan. Tidak ada alasan untuk berhenti. Perjalanan harus tetap dilanjutkan. Detik-detik berharga di TPS sangat menentukan. Tidak ada kata takut dan gentar untuk jadi orang nomor wahid. Komentar pasti ada dan akan tetap ada. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berbuat seoptimal mungkin untuk sebuah perbaikan. Bravo untuk anda yang berjiwa besar. Berani mengabdi dan peduli. Yang berani datang ke PPSU membawa lamaran. Bukan lamaran untuk dapat gaji dan uang. Tapi lamaran untuk belajar. Belajar berdinamika, belajar mengelola perbedaan, belajar menerima kritikan. Siapapun anda bravo alaik....[]
*Mantan Capres PPMI 2006-2007, Mantan Ketua KMM 2005-2006 |
| posted by PPSU 2007 @ 12:31 PM |
|
|
|
| Andai Aku Jadi Presiden |
| Monday, July 23, 2007 |
Kursi kepresidenan memang hal yang paling fenomenal bagi para organisatoris untuk meraihnya kadang demi hal tersebut semua orang merancang konsep-konsep kemajuan dan menyusun program untuk meraih suara terbanyak, berikut ini kita akan menyimak orang-orang yang mengandaikan dirinya menjadi orang nomor wahid di kalangan Masisir ini.
Riezka Purwitasari ( Mahasiswi Fakultas Ushuluddin I)
Menjadi seorang Presiden adalah amanat yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab, Presiden adalah figur rakyat cerminan dan barometer keadaan serta kondisi suatu bangsa, pengayom yang memberi kesejukan di hati rakyat bak sebuah oase ditengah gurun Sahara yang terik dan tandus. Oleh karena itu seorang Presiden dalam bertindak harus selalu mengingat prinsip: Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, sehingga segala sesuatu nantinya selalu dalam lingkup kemaslahatan umat. Program kerja harus sejalan dengan dinamika rakyat masisir seimbang dan selaras tidak perlu terlalu muluk-muluk tapi yang terpenting mampu untuk dijalankan, mengaktifkan dan memfungsikan kerja kabinet sehingga tidak terjadi kepincangan dalam kinerja pemerintahan, selain itu bagaimana Presiden memposisikan diri dalam bekerja sehingga mampu menepis paradigma-paradigma negatif, dikotomi organisasi, dan kesenjangan dalam tubuh masisir.
Dari sinilah kita tanamkan dalam hati setiap masisir bahwa "PPMI berdiri di atas dan untuk semua golongan" sebagai wadah perekat ummat yang mampu mengkolaborasikan warna menjadi suatu lukisan yang indah. Seorang Presiden tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya dukungan dan partisipasi dari rakyat karena Presiden tidak bisa berjalan di depan sebagai pemimpin atau berjalan di belakang sebagai backing tapi haruslah berjalan beriringan dengan rakyat sebagai suatu tim kerja yang solid. Apa yang sudah ada dan baik di tahun lalu marilah kita jadikan pegangan untuk selalu dijaga tanpa menafikan inovasi-inovasi baru untuk melangkah menuju hari esok yang tentunya harus lebih baik "al-mulhâfadzah 'ala al-qadim al-sholih wa al- akhdzu bi al-jadid al-aslah".
Tulisan ini hanyalah andaian dan impian seorang warga masisir yang tentunya belum mempunyai cukup pengalaman tentang ke-PPMI-an, tapi jauh dari lubuk hati ini terbesit secercah harapan semoga tulisan sederhana ini bisa mewakili suara hati warga masisir.
Sudarmono Abdul Latif. ( Mahasiswa Al-Azhar Fak Syariah Islamiyah)
Seandainya aku menjadi orang nomor wahid di Masisir, maka akan menjadikan Masisir sejahtera, aman dan maju dalam bidang intelektual. Aku akan berpegang terhadapsalah satu ayat al-Qur'an
الذى أطعمهم من جوع و آمنهم من خوف
Adapun untuk program unggulan yaitu Akan mendirikan koperasi di setiap kekeluargaan dan afiliatif, karena saya melihat mudahnya barang–barang kebutuhan mahasiswa dan belum adanya pihak yang melayani secara serius. Saya juga akan mengadakan kursus Bahasa Arab dan Inggris baik independen ataupun kerjasama dengan pihak lain dengan pengelolaan yang serius. Selanjutnya akan mengadakan Trainner tentang pengurusan zakat dan PKMI (Paket Kader Mahasiswa Ideal). Saya juga akan membuat opini umum untuk mempersiapkan diri menahan globalisasi. Dalam bidang budaya akan mengadakan pameran budaya yang bekerja sama dengan kementerian mesir. Saya juga akan mengadakan kerjasama dengan al-Azhar karena selama ini yang saya tahu bahwa Azhar itu tidak tahu tentang kita secara utuh padahal mereka itu siap menampung pengaduan kita.
Adapun visi saya yaitu "Berusaha menjadikan Masisir Menjalankan Islam Secara Kaffah." Untuk Misi :"Akan menjalankan program berdasarkan suara demokrasi. Akan berusaha untuk merakyat. Berani untuk gagal dalam artian akan selalu mencoba hal yang baru”.
Mush'ab Muqoddas (Mahasiswa Univ. Al-Azhar Fak. Bahasa Arab)
Dari status calon memang aku adalah calon independent, tetapi walaupun aku berasal dari independent aku mempunyai beberapa program yang ingin memajadikan masisir lebih maju.
Untuk program unggulan aku akan mengadakan kegitan Dialog Ke-Indonesia-an. Yaitu dialog berbentuk work shop tentang ke-Indonesia-an yang membahas kondisi Indonesia dari ekonomi, sosial, dan politik yang dipandu oleh orang yang ahli di bidangnya. Kedua, Menyambut Pesta Rakyat 2009, Acara ini berbentuk dialog antar partai politik Indonesia yang berada di Mesir. Acara ini bertujuan untuk merapatkan kembali barisan pelajar dan mahasiswa yang walaupun fungsionaris partai tetapi tetap mengingat tujuan ke Mesir bukan untuk berpolitik tapi untuk belajar dan tetap akur walaupun berbeda partai. Karena kepentingan bersama adalah membangun dan memperbaiki Indonesia bersama-sama bukan menguasai. Ketiga, Perburuan Data. Berbagai usaha untuk menghimpun data anggota PPMI terus diupayakan walaupun masih banyak kendala, sehingga kevalidan data yang ada masih diragukan. Kenapa kita perlu data yang valid, agar pembagian jatah Temus dapat dibagi secara adil. Keempat, Dialog dengan Al-Azhar. Kelima. Silaturahmi Pelajar Sedunia, Merupakan lobi tingkat tinggi para pimpinan persatuan pelajar dari berbagai Negara yang ada di Mesir. Acara berbentuk dialog santai untuk memperkuat silaturahmi dengan ceramah yang diisi oleh salah satu ulama’ Al-Azhar tentang perlunya persaudaraan untuk perdamaian. Keenam, Evaluasi SGS (Student Governmant Sistem) agar Murah Ongkos Politik. Adapun untuk visi saya yaitu “Organisasi membangun warga” Misinya yaitu Organisasi Penaung yang Efektif, Membangun warga PPMI yang maju, menjadikan Mesir tempat yang kondusif untuk belajar. [] |
| posted by PPSU 2007 @ 2:11 PM |
|
|
|
| Presiden Dan Masisir; Antara Idealisme Dan Realita |
|
Presiden Dan Masisir; Antara Idealisme Dan Realita Oleh: Ai Sulastri*
Penulis mungkin bukan kategori orang yang pandai menganalisis, termasuk berbincang tentang wacana yang berkembang seputar hajatan besar masisir kali ini (baca Pemiluwa; Pemilu Mahasiswa), peluang dan prospek kepresidenan ke depan, tapi paling tidak dalam tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca semua untuk membuka lembaran sejarah tentang prototipe seorang leader umat Islam dari generasi terbaik setelah Rasulullah Saw. Sebuah aksiomatik tersendiri tentunya Rasulullah adalah prototipe pertama dan utama sebagai sosok panutan seorang pemimpin. Jika kita sering beralasan 'udzur dalam meneladani beliau karena kapasitasnya seorang nabi, maka kali ini kita mencoba melihat kembali seorang sosok yang bukan nabi, melainkan dari generasi unggulan yang dibina oleh beliau.
Dialah Abu Bakar As-Shiddiq r.a. Dalam pidato perdananya sesaat setelah dinobatkan sebagai seorang khalifah setelah Rasul, dia berkata: "Wahai manusia, aku telah diangkat sebagai wali (pemimpin) kalian, meskipun aku bukan yang paling baik di antara kalian. Maka jika aku melakukan suatu kebaikan, bantulah aku menjalankannya, namun jika aku melakukan kesalahan, bantulah aku memperbaikinya. Mereka yang lemah, punya posisi yang kuat di sisiku sehingga aku harus memberikan haknya. Sementara mereka yang kuat adalah lemah di sisiku, sehingga aku mengambil hak darinya."
Dari pidato kekhalifahan pertama Abu Bakar tersebut, paling tidak ada tiga kriteria pemimpin yang bisa dijadikan model. Pertama, memiliki integritas diri yang kuat (akhlak). Hal ini terletak pada ungkapan Abu Bakar dalam pidatonya, "Meskipun aku bukan yang paling baik di antara kalian", ini menggambarkan sosok tawadhu', salah satu karakter utama seorang pemimpin muslim. Karakter ini diharapkan dapat melahirkan karakter berikutnya yaitu pemimpin yang memilikVisi dan Misi yang kuat. Hal ini terlihat dari ungkapan Abu Bakar berikutnya yang berbunyi, "Maka jika aku melakukan suatu kebaikan, bantulah aku menjalankannya." Dengan keberanian mengikrarkan Visi Misinya secara jelas serta sifat tawadhu' yang dimiliki, maka selanjutnya karakter ini akan melahirkan tipologi berikutnya yaitu terbuka (mau bekerja sama) dan siap menerima masukan atau kritikan dari rakyatnya. Hal ini tampak dalam pidatonya yang berbunyi, "Akan tetapi jika aku melakukan kesalahan, bantulah aku memperbaikinya." Kritikan baginya bukan sesuatu yang ditakuti melainkan suatu kebutuhan untuk senantiasa mengevaluasi sejauh mana legitimasi dan akseptabilitas masyarakat terhadap kepemimpinannya. Yang terakhir, mengetahui peran dan amanahnya sebagai pemimpin. Hal ini terlihat dari ungkapan beliau "Mereka yang lemah, punya posisi yang kuat disisku sehingga aku harus memberikan haknya. Sementara mereka yang kuat adalah lemah di sisiku, sehingga aku mengambil hak darinya.” Artinya, setinggi apapun gelar yang disandang oleh seorang pemimpin, tetap saja ia harus memberikan khidmah pada masyarakatnya, sekalipun dari golongan yang lemah. Karena sejatinya seorang pemimpin adalah khâdimul ummah (pelayan bagi masyarakatnya). Demikian pula dengan ketinggian strata dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, ia tetap saja seorang rakyat biasa yang harus tunduk pada pemimpinnya.
Mencermati pidato Abu Bakar r.a. di atas, maka kita mendapatkan bahwa beliau menempatkan point visi dan misi pada posisi utama. Seorang pemimpin tidak dituntut mengakomodir semua keinginan masyarakat, yang mestinya dilakukan adalah mengakomodir potensi yang dimiliki masyarakat, serta mengarahkannya untuk mencapai tujuan bersama. PPMI dalam hal ini seperti yang tertuang dalam AD ART. Selain itu, seorang pemimpin harus mampu menangkap kebutuhan primer masyarakatnya, sehingga eksistensinya betul-betul dirasakan.
Selama ini masisir belum ada keberterimaan yang utuh terhadap presiden terpilih, kritikan bahkan hujatan tak ayal dilayangkan oleh mereka yang merasa menjadi rival pendukung capres yang lainnya. Selain tuntutan-tuntutan yang menganggap presiden bak Doraemon yang mampu mengabulkan semua kebutuhan Nobita. Masisir cenderung menuntut lebih. Padahal untuk berani maju ke bursa kandidat saja merupakan sebuah prestasi yang mesti diapresiasi. Siapapun orangnya, yang maju ke bursa capres adalah orang yang berjiwa besar. Ya, mungkin tujuannya memberikan kritik membangun, tapi terkandang nuansa sentimentil masih cenderung kental.
Ke depan, masisir diharapkan mampu melangkah bersama, siapapun presiden terpilih, masisir harus legowo menerimanya secara penuh dengan memberikan dukungan dan kontribusinya selama masa kepresidenan berlangsung. Karena dalam Student Government System (baca; SGS) yang kita anut memberi peluang yang amat lebar bagi masisir untuk turut urung rembuk membangun PPMI secara lebih dinamis, demokratis dan sehat. Sumbangsih masisir tidak berhenti pada prosesi Pemiluwa saja. Kontribusi berikutnya bisa dilakukan melalui Sidang-sidang PPMI baik di MPA maupun di BPA. Misalnya saja pada Sidang Pleno BPA, yang membahas Rancangan Program Kerja dan RAPBO (Rancangan Anggaran Pendapat dan Belanja Organisasi) DPP (Dewan Pengurus Pusat) PPMI tiap satu semester. Dengan sistem SGS ini, masisir punya hak untuk mengawal perjalanan presiden dan kabinetnya melalui fungsi-fungsi BPA.
Ada asumsi yang berkembang bahwa BPA tidak terlihat garapan realnya (maaf, meski tidak memiliki alasan yang cukup kuat), namun secara konstitusi, kita memiliki sistem yang cukup representatif untuk tetap menyuarakan aspirasi masisir melalui lembaga legislatif ini (baca: BPA) adapun tentang asumsi ini, bisa benar bisa juga tidak. Tidak sepenuhnya benar, toh hampir 90% rekomendasi dan tugas BPA sudah dijalankan dengan cukup baik, dari mulai rekomendasi evaluasi UU Maba, yang berhasil melahirkan UU KPP Maba (Undang Undang Komisi Pengurusan Pendaftaran Mahasiswa baru) beserta UU Advokasi yang tahun sebelumnya belum sempat digarap, hingga membantu presiden dalam menjalankan rekomendasi MPA tentang pembentukan TPIM (selanjutnya menjadi KPI; Komite Peduli Interaksi). Serta beberapa persidangan lainnya. Memang tidak akan terasa langsung oleh kalangan grass root masisir karena peran ini merupakan peran legislatif, sedangkan program yang menyentuh grass root adalah peran lembaga eksekutif (DPP PPMI). Meski mungkin asumsi itu ada benarnya jika kita melihat sedikitnya masisir yang aktif dalam lembaga tersebut (baca: BPA). Hal ini memang realita, kesadaran akan urgensi BPA di kalangan masisir memang masih minim, itu harus kita akui. PPMI bukan hanya Presiden dan jajaran kabinetnya, tapi juga WIHDAH, BPA dan MPA yang tak lain adalah bagian dari komunitas masisir secara keseluruhan. Wallâhu A'lam bi ash-Shawwâb
*Waka I (Wakil ketua I) BPA PPMI 2006-2007 |
| posted by PPSU 2007 @ 1:20 PM |
|
|
|
|
|